Pantai Slamaran Indah


Rp 5.000
Pagi itu dipenghujung bulan Juni 2013, setelah sarapan pagi di Batang, saya melanjutkan perjalanan ke Pekalongan, ketika sarapan tadi, saya sengaja membungkus bekal makan siang, keluarga bertanya, untuk apa, bukankah hari masih pagi, saya menjawabnya ada aja, maksud saya mau buat kejutan pada keluarga, saya mau mampir di Pantai Slamaran Indah, lalu sekalian makan siang disana, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Tetapi, prediksi macet, yang kemarin-kemarin saya alami dari Jawa Timur, ternyata meleset, sekitar jam 9.20 saya sudah memasuki Pekalongan, lalu dengan mengikuti tanda arah, kendaraan saya arahkan sesuai petunjuk menuju Pantai Slamaran. Setelah melalui Muara lalu melewati Galangan Kapal KUD Makaryo Mino, sampailah kami di Pintu masuk Pantai Slamaran Indah. Karena hari itu, hari senin dan tanggal tua, serta masih terhitung pagi, penjaga pintu gerbang kaget, mereka menyangka kami akan melakukan acara ritual untuk Dewi Lanjar, jika memang benar, salah satu dari mereka bersedia untuk membantu kami, mempersiapkan ritual yang dimaksud. Saya terus terang kaget, siapa Dewi lanjar? Lalu karena kami tidak buru-buru, saya ajak salah satu penjaga tadi untuk menemai kami, sementara yang lain berwisata pantai, saya ingin tau tentang cerita Dewi Lanjar. Pantai Slamaran Indah terletak di sebelah timur Pantai Pasir Kencana, dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan. Sebagai daerah wisata, Pantai Slamaran memiliki pemandangan yang sangat indah, udara yang segar dan dapat pula disaksikan terbit dan terbenamnya matahari sehingga sangat menarik untuk dikunjungi. Luas lahan Pantai Slamaran Indah sekitar 3,5 Ha. Harga tiket masuk sebesar Rp. 2.750,00 (hari biasa) ; Rp. 5.000,00 (hari Munggu/Libur), sesuai dengan Perda No.25 Tahun 2011, semua tiket sudah termasuk Asuransi. Diceritakan pada jaman dahulu di suatu tempat Kota Pekalongan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, sampai sekarang masih menjadi pembicaraan penduduk, yang terkenal dengan nama Dewi Rara Kuning.

Dalam menempuh gelombang hidupnya Dewi Rara Kuning mengalami penderitaan yang sangat berat, sebab dalam usia yang sangat muda ia sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dunia setelah beberapa waktu melangsungkan pernikahannya. Maka dari itulah Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar. ( Lanjar sebutan bagi seorang perempuan yang bercerai dari suaminya dalam usia yang masih muda dan belum mempunyai anak ). Sejak ditinggal suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangat merana dan selalu memikirkan suaminya saja. Hal yang demikian itu berjalan beberapa waktu lamanya, tetapi lama kelamaan Dewi Lanjar sempat berpikir kembali bahwa kalau dibiarkan demikian terus akan tidak baik akibatnya. Maka dari itulah ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sambil menangis hatinya yang sedang dirundung malang. Tersebutlah, perjalanan Dewi Lanjar sampai disebuah sungai yaitu sungai Opak. Ditempat ini kemudian bertemu dengan Raja Mataram bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa ngapung diatas air di sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya serta pula mengatakan tidak bersedia untuk menikah lagi. Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu demi mendengar tuturnya terharu dan merasa kasihan. Oleh karena itu dinasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan serta menghadap kepada Ratu Kidul. Setelah beberapa saat lamanya, mereka berpisah serta melanjutkan perjalanan masing-masing, Panembahan dan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menghadap Ratu Kidul. Dikisahkan bahwa Dewi Lanjar sesampainya di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Karena ketekunan dan keyakinan akan nasehat dari Raja Mataram itu akhirnya Dewi Lanjar dapat moksa ( hilang ) dan dapat bertemu dengan Ratu Kidul. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon untuk dapat menjadi anak buahnya, dan Ratu Kidul tidak keberatan. Pada suatu hari Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiren (kini letaknya disekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen tempat Raden Bahu membuat api) tetapi karena kesaktian Raden Bahu, yang diperoleh dari bertapa Ngalong (seperti Kalong / Kelelawar), semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu. Karena Dewi Lanjar tiada berhasil menunaikan tugas maka ia memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahu disetujui bahkan pula oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan. Konon letak keraton Dewi Lanjar terletak dipantai Pekalongan disebelah sungai Slamaran. ( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan )

Curug Muncar


Rp 17.000
Petungkriyono merupakan salah satu kecamatan Kabupaten Pekalongan berlokasi di lereng Gunung Ragajambangan pada ketinggian 900 – 1600 m dpl. Sebuah kawasan yang sejuk dengan keragaman kemolekan dan keindahan alam yang cocok untuk tempat wisata. Dari ibukota Kabupaten Pekalongan berjarak 30 km dan dapat di capai dengan kendaraan umum. Sebagai kawasan ekowisata, Petungkriyono merupakan lokasi yang memberikan banyak pilihan untuk melakukan pemenuhan hasrat berwisata alam secara bertanggung jawab. Di kawasan ini anda dapat memperoleh pengalaman melakukan penjelajahan alam dan kegiatan outbond. Curug Muncar adalah suatu tempat wisata alam air terjun yang terletak disebuah desa Curug Muncar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ditempat ini pengunjung akan disuguhkan pemandangan alam berupa air terjun yang memiliki keindahan alam yang tak kalah dengan air terjun dibelahan bumi lainya, dengan jarak tempuh sekitar 30 km ke- arah selatan dari alun – alun kajen kabupaten pekalongan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Selain itu, dalam perjalanan menuju lokasi wisata tersebut, pengunjung akan di manjakan dengan udara yang sejuk serta pemandangan yang masih asri dengan sajian pemandangan barisan pepohonan di areal hutan lindung ini. Selain dengan air terjun yang begitu mempesona, keberadaan Curug yang terletak di ketinggian 1250 m diatas permukaan laut ini di lengkapi camping ground yang dilengkapi dengan MCK, Pendopo, Pos Jaga dan tempat bermain. Dengan sumber air yang bernama sumber air rogo jembarang, memiliki 3 tingkatan yakni telogo lumbu, kalibanteng dan telogo lawe dengan ketinggian air terjun 100m. Marsono Kepala Desa Curug muncar saat mendampingi peserta Press Gathering Kabupaten pekalongan, Sabtu (27/4) mengungkapkan sedikit sejarah keberadaan Curugmuncar ini. “Curug ini tercipta sekitar ratusan tahun yang lalu, karena dulu ditempat tersebut terdapat banyak sumber mata air yang terpencar dibanyak tempat disekitar lereng pegunungan tersebut. Sampai akhirnya sumber mata air tersebut menyembur banyak dan terbentuk sebuah air terjun” katanya. Marsono juga mengatakan bahwa keberadaan desa yang kini penduduknya sekitar 300 KK ini’ merupakan tempat persinggahan para pendatang dari berbagai daerah lain di Indonesia dan akhirnya menetap di sini. “Bahkan nenek moyang saya juga berasal dari luar pekalongan”, lanjutnya saat menerima para tamu peserta press gathering di balai desa curugmuncar. Menurutnya pada hari libur nasional atau hari-hari besar seperti tahun baru atau lebaran, lokasi curug muncar akan banyak dikunjungi wisatawan dari daerah lain, seperti Pemalang, Batang, Semarang dan kota-kota lainnya. “Biasanya pada hari libur dan hari besar lainnya curug muncar akan di kunjungi banyak tamu”, tuturnya.

Curug Cinde


Rp 15.000
Lokasi Terletak di Desa Depok, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah. Peta dan Koordniat GPS: Aksesbilitas Berjarak 24 km dari kota Kajen (ibukota kabupaten). Untuk menuju kesana dari kota Pekalongan arahkan kendaraan ke kota Kajen, lalu ke arah kecamatan Karang Anyar (sekitar 19 km). Dari Karang Anyar kemudian dilanjutkan sekitar 5 km menuju Desa Depok, Kecamatan Lebak Barang. Waktu yang dibutuhkan sekitar 2 jam untuk sampai di desa Depok ini. Perjalanan ke curug ini melewatii hutan heterogen yang didominasi tanaman produksi Pinus dan Karet. Jika menggunakan kendaraan umum dari kota Pekalongan turun di kecamatan Karanganyar lalu naik naik angkot dengan jurusan Depok. Dari desa Depok perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km menuju air terjun dengan melewati jalan setapak yang menanjak, licin dan penuh lintah. Waktu tempuh sekitar 1 jam perjalanan. Selama perjalanan menuju curug ini akan ditemui 2 buah air terjun kecil dengan ketinggian masing-masing sekitar 5 dan 30 m. Fasilitas dan Akomodasi Tak ada fasilitas apapun disini, dan masih terlihat alami. Namun beberapa sampah nampak berserakan di lokasi ini.

Kluban

/>
Rp. 4.000

Kluban itu makanan warga Pekalongan , khususnya di wilayah Kabupaten Pekalongan , seputar Kec. Kedungwuni, Pekajangan , Wonopringgo pada sore hari menjelang Magrib dan setelah maghrib. Kluban itu Urapan terdiri dari Kacang panjang, taoge, Kol, bayam atau kangkung dengan bumbu Mboksiyah = lombok trasi uyah (garam ), di tambah kencur dan di urap bersama parutan kelapa. Kluban biasanya dicampur dengan Bothok atau Pindang tetel. Bothok itu sayur Lodeh yang biasanya berisi Tahu dan Bongkrek (oncom) dengan santen encer trus di guyurkan ke sepincuk (daun pisang yang di lipet dan di semat lidi untuk tempat Kluban). Kluban Bothok dan Kluban Pindang tetel biasanya jadi makanan yang di kangenin warga Pekalongan di luar kota setiap lebaran tiba .

Garang Asem

/>
Rp. 6.000

Hampir sama dengan Pidang tetel, Garang Asam juga berisi tetelan daging sapi namun kuahnya diberi banyak tomat, sehingga memberian rasa asam namun segar. Garang asam biasanya dicampur dengan daging, jerohan atau telur. Biasanya Garang asam dimasak agak pedas, sehingga rasanya tambah nikmat. Di kota pekalongan Garang asam banyak sekali djumpai diwarung – warung terutama pada siang hari.

Tauto (Soto) Pekalongan


Rp. 5.000

Tauto pekalongan adalah soto dengan bumbu tauco. Soto asal Pekalongan ini memang menggunakan taoco manis sebagai bumbunya. Untuk isinya tauto menggunakan daging sandung lamur, telur rebus dan emping. Sajikan dengan taburan bawang goreng, daun seledri dan perasan air jeruk nipis. Penyajian tauto cukup sederhana, hanya berisi dengan bihun putih, daun bawang, bawang merah dan kuah sotonya. Setelah semuanya dicampur, baru kemudian ditambahkan dengan tauto nya, yaitu kedelai yang telah dimasak dan dihaluskan. Dengan tambahan bumbu kedelai ini, kuahnya bertambah harum dengan cita rasa yang khas. Rupanya hal inilah yang membedakan dengan soto-soto lainnya yang ada. Sebagai menu pelengkap biasanya tersedia tempe dan tahu goreng khas Pekalongan.

Pindang Tetel


Rp. 7.000

Pindang tetel adalah sayur berkuah berisi tetelan daging sapi dan irisan daun bawang dengan bumbu pindang, yaitu rempah-rempah bercampur kluwak. Ciri khas lain pindang tetel adalah kehadiran kerupuk merah dan kuning yang digoreng dengan pasir. Pindang tetel tidak cocok berpadu dengan kerupuk yang digoreng dengan minyak karena akan merusak cita rasanya. Pindang Tetel banyak dijumpai di Kecamatan Kedungwuni dan yang paling khas adalah di Desa Ambokembang.zimnya jadi lauk masyarakat akar rumput di pekalongan, megono layak anda coba. Selamat berkelana mencari megono di pantura
 
Support : Madya Rara Website | Madya Rara | Madya Rara
Copyright © 2011. madyarara - All Rights Reserved
Created by Creating Website Published by Madya Rara
Proudly powered by Blogger